Senyum merupakan bahasa jiwa yang tulus. Dengan senyum akan
dapat terwujud pelayanan prima Perpustakaan sehingga pemustaka yang berkunjung
dan memanfaatkan perpustakaan semakin betah dan bertambah.
Dalam perkembangannya perpustakaan terus dituntut untuk
dapat memuaskan kebutuhan pemustakanya agar mereka tetap menjadi penggunjung
dan pengguna jasa perpustakaan yang setia dan juga dapat menarik penggunjung
yang potensial agar tertarik untuk memanfaatkan layanan yang ada di
perpustakaan.
Pelayanan perpustakaan berhubungan erat dengan masyarakat
pemakainya. Sebaik apapun pelayanan perpustakaan tidak akan mempunyai arti jika
tidak ada pemakai yang memanfaatkannya. Sebaliknya, kebutuhan tidak akan
terpenuhi jika tidak ada layanan perpustakaan yang handal.
Nilai sejati dari sebuah pelayanan terletak pada 4P, yaitu
Passionate, Progressive, Proactive dan Positive. Cara terampuh dan berpengaruh
dalam bersikap positif adalah dengan tersenyum. Senyum merupakan satu aspek
dari layanan perpustakaan, tanpa senyuman yang tulus layanan kepada pemustaka
sebaik apapun kadang tidak dianggap. Sebagai ujung tombak perpustakaan ,
pustakawan dibagian pelayanan diharapkan dapat memberikan kesan positif kepada
pemustaka, tidak hanya tindakan maupun ucapan tapi juga kesan yang baik.
Senyuman dapat terus dilatih agar lebih baik dari hari ke
hari. Untuk memaksimalkan potensi senyuman, Hartono dan Pramono, 79-82
menyebutkan tiga hal yang dapat dilakukan, diantaranya adalah:
- Mulai sekarang bangunlah suatu niat untuk selalu tersenyum, dan yakinlah pada diri sendiri bahwa senyum akan membuat diri kita lebih menarik
- Mulai sekarang gunakan kecerdasan indera untuk menangkap apa yang ada disekeliling kita. Dengan menjadi pribadi senyum, apapun dapat dijadikan objek senyuman.
- Mulai sekarang gunakan satu objek lalau diperdalam. Ingat, senyum bukan hanya gerakan bibir manis yang simetris lalu hati merasa bahagia. Namun lebih dari itu, tersenyum terkait dengan hati dan organ tubuh kita lainnya.
Layanan prima diterapkan dilingkungan perpustakaan sangatlah
penting. Seperti diketahui, perpustakaan dikatakan “sukses” jika koleksi,
fasilitas dan layanan yang ada dimanfaatkan secara maksimal oleh pemustaka.
Bahkan hidup matinya perpustakaan tergantung pada pemustaka. Artinya, tumbuh
dan berkembangnya kinerja perpustakaan dikatakan prima jika banyak pemustaka
yang memanfaatkan perpustakaan. Oleh karena itu, tidak dipungkiri bila layanan
prima menjadi salah satu alternative yang perlu dilakukan.
Jadi, dalam melakukan layanan perpustakaan, untuk mewujudkan
kepuasan bagi pemustaka, tidak hanya keramahan yang dibutuhkan tetapi juga
senyum yang tulus.
Referensi:
Achmad;Mansur Sutedjo; Surono dan Edy Suprayitno, Layanan
Cinta: Perwujudan layanan Prima++ Perpustakaan, Jakarta : Sagung Seto, 2012.
Hartono, Puji dan Pranowo, Spiritual Quantum Smile,
Yogyakarta: Pro-You, 2012.
Kurnia Utami, Melayani sepenuh Hati, Surakarta: IAIN
Surakarta, 2013.
Khoirul Maslahah dan Nushrotul Hasanah, Layanan Perpustakaan
Berbasis Humanisme: Bunga rampai, Surakarta: IAIN Surakarta, 2013.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar